Polls

Where'd you come from?

 

Follow me

Follow me on twitter

weather

Weer

Id-Joomla Community

Banner

Who's Online

We have 24 guests online

Statistics

OS : Linux x
PHP : 5.2.17
MySQL : 5.0.96-community-log
Time : 21:01
Caching : Disabled
GZIP : Disabled
Members : 1
Content : 29
Web Links : 59
Content View Hits : 56683

Random Image

755099201_ea0bdc0d3d_s.jpg

About Me

“Rianne van Duijn - Aziz, Indonesian, living in Holland, mother of Sven Mika. Interesting in software engineering, project management, web analytics, Joomla! and Oracle technology.”

Melewati tahun 2010
Friday, 31 December 2010 11:04

Dah mo 2011 nih beberapa jam lagi, saatnya mengenang tahun 2010. Kejadian apa2 aja yang penting dalam hidup gw.

Yang paling bikin gw bahagia, berat badan gw dah balik seperti semula, seperti sblom gw hamil.

Kebahagiaan yang juga ga boleh terlupakan, Sven tumbuh dengan sehat dan cepat.

Di 2010 gw juga sempat pulang ke Indonesia dengan Sven untuk mengunjungi orang tua, ade dan keluarga tercinta.

Selain kebahagiaan ada juga kesedihan, nene gw sakit keras terbaring di rumah sakit. Mudah2an adut cepat di beri kesembuhan di tahun 2011 mendatang amin.

Harapan gw tahun 2011, gw lebih punya banyak waktu untuk Sven dan suami tercinta. Juga lebih punya banyak waktu luang untuk hobby gw. Amin.

Last Updated on Friday, 31 December 2010 11:54
 
Lelahnya jadi orang Indonesia
Friday, 31 December 2010 10:04

Baru aja baca ini, tanggapan dari kantor imigrasi Jakpus, menanggapi kritikan dari client nya, yang mengeluh akan kinerja kantor ini. Kalau baca surat pembaca dari si client, gw langsung bisa membayangkan, adalah benar smua yang ditulis itu. Terakhir kali berhubungan dengan kantor (baca birokrasi) pemerintahan di Indonesia waktu gw mau perpanjang SIM. Asli kocak banget waktu itu. Saat itu klo di banding dengan yang digambarkan dalam surat pembaca itu, agak sedikit lebih baik di kantor pembuatan SIM. Setidaknya gw ga harus nunggu lama2 di antrian. Oiya waktu ngurus perpanjangan SIM ini gw dateng sendiri, ga pakai calo2 segala. Yang lucu buat gw, betapa banyaknya runtunan proses yang harus gw ikutin, demi perpanjangan SIM gw. Proses2 itu sendiri buat gw yang udah lama tinggal di luar negeri bikin ngakak abis. Intinya, tidak efisien penggunaan sumber daya manusia dan penggunaan waktu dan juga uang ya tentunya. Sudah saatnya tu manusia2 yang membuat sistim birokrasi di kantor2 pemerintahan studi banding ke luar negeri, biar bisa membandingan dan langsung mepraktekan hasil studi banding tersebut di kantornya.

Lanjut ke cerita gw soal perpanjangan SIM, waktu gw baru dateng, gw udah siapin semuanya. Maksudnya biar gampang dan cepet. Tapi mana bisa cepet, kalo ternyata buat perpanjang SIM aja gw harus melalu skitar 7 manusia (baca: loket). Ntah maksudnya untuk menciptakan lapangan kerja untuk orang2 Indonesia (baca: PNS) yang kekurangan kerjaan itu ato emang untuk nyusahin kita2 ato emang yang nyiptain systemnya ga pinter sama skali, yang jelas buat perpanjangan SIM musti ditangani oleh minimal 7 orang bener2 tidak efektif. Yang paling kocak, gw harus priksa/cek mata, hahahahah klo inget kocak abis, gw kasih nomor urut untuk dapet bagian periksa mata, pas nomor urut gw dipanggil, gw disuruh masuk ke ruangan gitu, disitu ada PNS ibu2 yang kerjaannya harusnya sih ngecek mata lo, itu loh macem klo lo ngecek mata di opticiens. Tapi yang kocak nih, begitu lo masuk, blom juga lo duduk, lo udah di suruh berdiri lagi langsung dia bilang mata lo ok. Wakakakkakakaka.....*aneh bin ajaib, geblek bin ancur system kaya gini*. Trus....di loket brikut2nya yang harus gw sambangi, gw liat banyak banget tuh PNS yang ga ada kerjaan, cuman berdiri2 aja ngobrol nyantai2, longok sana longok sini kaya orang bego. Hadddooohhhh...lo tuh di gaji sama uang rakyat Indonesia (untung bukan duit gw klo ga udah gw marah2in pasti tu orang2 males), klo ga ada kerjaan dari atasan lo, ya mbok cari kerjaan, nyapu ruangan lo kek, ato bersih2 loket yg kotor banget. :D

Buat perbandingan, di Belanda sini klo mo perpanjang SIM, lo cukup ke gemeente (kantor administrasinya wilayah daerah, disini lo bisa ngurus pasport, id card, bukti lahir dll dsb), bawa foto, id card, sim lama yang hampir habis masa berlakunya, uang untuk biaya perpanjangan. Begitu sampai di gemeente, lo lapor ke receptionist. Petugas ini akan mencheck apa smua persyaratan2 yg di perlukan lengkap, klo ga lengkap ya lo disuruh pulang lengkapin lagi yg di perluin (untuk sekadar info, smua persyaratan bisa di liat di internet, setiap wilayah daerah punya website sendiri yang lengkap). Petugas receptionist itu pula yang menentukan lo nanti harus menghadap ke petugas yang ada di loket berapa dan memberikan nomor urut, di nomor urut itu ada keterangan loket berapa yang harus lo tuju, dan juga ada nomor urut lo. Ya trus lo tinggal nunggu deh di ruang tunggu, sampe nomor urut lo tertera di papan panggil. Setelah waktunya lo menghadap, lo serahkan smua persyaratan, trus di loket itu pula lo harus bayar biaya perpanjangan, setelah membayar ada tanda terimanya, tanda terima ini untuk bukti saat lo ambil SIM nanti. Lama perpanjangan SIM maks. 5 hari, klo mo cepet juga bisa, lo bisa bayar extra, dalam 1 hari kerja bisa beres.

Nah coba banding dengan proses di Indo. Buang duit dan buang waktu banget. Grrrrhhhhh....thanks God gw ga tinggal disana. Ga heran knapa orang Indo mo nya marah2 terus klo musti ngurusin surat2 ke kantor pemerintahan. Udah gerah kepanasan di ruang tunggu, trus systemnya juga tidak pinter sama sekali, lebih bikin gerah batin. Lelah banget kan emang jadi orang Indonesia....

Last Updated on Friday, 31 December 2010 10:40
 
Apex 4.0 - Ik doe maar wat
Monday, 13 September 2010 20:24

Programmeren is zo verslavend, zo ervaar ik. Vorige week nog naar België geweest om een kennis sessie bij te wonen, waarbij de toepassing van een Apex 4.0 applicatie (een prototype) wordt gepresenteerd. De applicatie was niet super goed, maar wel OK (sommige dingen werken nog niet helemaal en volgens mij kunnen ook beter - maar t is niet voor niets een prototype :D toch?). De bouwer is ook een beginner Apex ontwikkelaar, maar heeft al ervaring met PL/SQL.

Ik had mijn Apex omgeving klaar, maar op een of een andere reden, werkte het ftp-en naar de /i/ directory niet. Damn...terwijl ik het heel erg belangrijk vind. Ik wil op een gegeven moment mijn eigen themes kunnen ontwikkelen in mijn Apex omgeving en vind niet zo handig als ik dan geen toegang heb tot mijn images directory (moet ik soms één per één al die images/scripts/css via 'shared components/files' uploaden, geen zin).

Kortom, door een foutje door mijzelf veroorzaakt, deed mijn Apex omgeving niet meer. Agggrhhh...ik kon dus mooi weer beginnen. Maar ik wil me al zo snel voorbereiden op mijn afspraak a.s. donderdag (betreft het onderzoek van Oracle Forms integratie in Apex). Ik dacht geen tijd meer om opnieuw een omgeving in te richten. Ik heb maar een account aangemaakt op apex.oracle.com.

Het is nu al een week voorbij. Ik kan wel zeggen dat het hele (nieuwe) structuur van Apex 4.0 al bijna intuïtief is geworden voor mij :) - gelukkig. Er staan zo veel dingen te doen om Apex 4.0 uit te proberen. Tot nu toe heb ik de nieuwe features 'Team Development' uitgeprobeerd (later voor meer details hierover) en Timesheets van Oracle Apex Packaged Application omgebouwd tot een wat uitgebreidere tijdregistratie systeem. Met de laatste ben ik vooral het meest bezig geweest. Daarom zeg ik, programmeren is zo verslavend. Er zijn nog zo veel dingen te doen, maar moeten voorlopig worden uitgesteld. Zeker voor a.s. donderdag wil ik ook het artikel van Roel Hartman lezen en begrijpen (de basis van zijn aanpak is de werkwijze van Wilfred van der Deijl om Oracle Forms en ADF te integreren met OraFormsFaces). En ook een (zelf gemaakte) Apex look-and-feel zal mijn aandacht krijgen (ik vind toch de meegeleverde Apex themes niet zo mooi - al zijn ze veel beter dan de voorgaande versie).

Last Updated on Monday, 13 September 2010 21:45
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 1 of 10